Pemanfaatan PGPR dari Akar Bambu
Oleh : Flavianus Lau
1. PENDAHULUAN
Pembangunan pertanian memiliki peran yang strategis dalam perekonomian nasional.
Rumusan Rencana Strategis (Renstra) Kementrian Pertanian Negara Republik
Indonesia tahun 2010-2014 menjadi dasar pembangunan pertanian yang meliputi:
pencapaian swasembada dan swasembada berkelanjutan, peningkatan diversifikasi
pangan, peningkatan nilai tambah, daya saing, dan peningkatan kesejahteraan petani,
upaya pengembangan pertanian berbasis sistem pertanian berkelanjutan yang saat ini
semakin marak dilakukan. Tujuan peningkatan hasil dan pelestarian lingkungan
menjadi dasar dari pelaksanaan pertanian berkelanjutan. Dewasa ini sistem pertanian
yang dilakukan oleh petani hanya berorientasi pada hasil, tetapi terkadang upaya yang
dilakukan oleh petani justru berdampak pada penurunan hasil bahkan kerusakan
lingkungan, hal ini disebabkan oleh penggunaan bahan kimia yang berlebihan.
Penggunaan pupuk kimia yang berlebihan dapat menyebabkan tanah menjadi masam
dan keras sehingga kesuburan tanah menurun. Untuk mengembalikan kesuburan
tanah penggunaan pupuk organik sangat di perlukan, salah satunya adalah Plant
Growth Promoting Rhizobakteria (PGPR). Selain digunakan untuk pupuk hayati PGPR
juga membantu dalam mensuplai unsur hara esensial yang dibutuhkan oleh
tanaman dan sebagai pengendali pathogen tanah (Ramadhani 2020). PGPR adalah
sejenis bakteri yang hidup di sekitar perakaran tanaman. Bakteri tersebut hidupnya
secara berkoloni menyelimuti akar tanaman. (Oktaviani et al. 2018),
PGPR berperan penting dalam meningkatkan pertumbuhan tanaman, hasil panen
dan kesuburan lahan. Bagi tanaman keberadaan mikroorganisme ini akan sangat baik.
Bakteri ini memberi keuntungan alam proses fisiologi tanaman dan
pertumbuhannya,sehingga pertumbuhan tanaman menjadi baik dan sehat (Sito, 2015)
Penggunaan PGPR bermanfaat bagi kesuburan tanah, karena bakteri yang
terkandung dalam PGPR dapat mengaktifkan mikroorganisme tanah sehingga bahan
organik yang terkandung dalam tanah dapat terdekomposisi, dan tanah sebagai media
tanam menjadi subur
Secara alami PGPR dapat dibuat dengan menggunakan akar tanaman bambu.
Karena tanaman ini sangat berpotensi untuk dikembangkan menjadi biofertilizer dan
biopestisida dikarenakan pada perakaran bambu terdapat bakteri PGPR yang
memiliki kemampuan meningkatkan pertumbuhan tanaman dan menekan aktivitas
fitopatogen (Diliarosta, et al., 2020). Dan juga Akar bambu banyak terkolonisasi
strain PGPR Pseudomonas fluorescens yang dapat memproduksi senyawa antibiotik
untuk mencegah terjadi serangan jamur patogen yang berada di dalam rhizosfer
(Pratiwi, et al., 2017; Kenawy et al., 2019)
Menurut hasil Identiikasi Potensi Wilayah yang penulis lakukan tanaman bambu di
sepanjang aliran DAS sungai Motabuik dan sungai Talau, kelurahan Fatukbot
sebanyak 75 rumpun tetapi petani belum mampu memanfaatkan sehingga penulis
menyimpulkan untuk melakukan Rancangan Penyuluhan tentang Pemanfaatan
PGPR (Plant Grwoth Promoting Rhizobacteria) dari Akar Bambu sebagai
pupuk cair di Kelompok Tani Dalan Ida Kelurahan Fatukbot, Kecamatan
Atambua Selatan, Kabupaten Belu, Provinsi Nusa Tenggara Timur.
1. METODE
Menurut Sugiyono (2013) metode penelitian merupakan cara ilmiah untuk
mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu. Metode kajian Rancangan
Penyuluhan Tentang Pemanfaatan PGPR dari Akar Bambu di Kelompok Tani Dalan
Ida Kelurahan Fatukbot Kecamatan Atambua Selatan Kabupaten Belu Provinsi Nusa
Tenggara Timur yaitu survey dimana desain ini meneliti suatu kelompok atau individu
tertentu untuk mendapatkan fakta-fakta, informasi yang ada dan mencari
keterangan-keterangan secara faktual baik tentang institusi sosial, maupun ekonomi.
Metode yang digunakan untuk mengetahui respon petani setelah dilakukan
penyuluhan yaitu menggunakan analisis Deskriptif Kuantitatif dimana analisis ini
mendeskripsikan suatu gejala, peristiwa, kejadian yang terjadi. Untuk mendapatkan
rekomendasi Penyuluhan Tentang Pemanfaatan PGPR dari akar Bambu sebagai
pupuk cair di kelompok tani Dalan Ida Kelurahan Fatukbot Kecamatan Atambua
Selatan Kabupaten Belu menggunakan metode Survey.
2. HASIL DAN PEMBAHASAN
PGPR ( Plant Growth Promoting Rhizobacteria) adalah sejenis Bakteri yang hidup
disekitar pertanaman. Bakteri tersebut hidupnya secara berkoloni menyelimuti akar
tanaman. Bagi tanaman keberadaan mikroorganisme ini sangat baik Bakteri ini
memberi keuntungan dalam proses fisiologi tanaman dan pertumbuhannya. Akar
adalah sumber kehidupan dimana terjadi pertukaran udara,unsur hara,dekomposisi
dan lain-lain.
Bakteri adalah mikroorganisme yang dapat bermanfaat bagi tanaman,antara lain
melalui penyediaan unsur hara N dengan cara menambatnya dari udara (kelompok
Rhizobia), penyediaan unsur hara P melalui pelarutan unsur P dari bentuk yang tidak
tersedia antara lain melarutkan Al – P,Fe-P,Ca-P dan mineralisasi P dalam bentuk
Organik, Selain itu bakteri juga dapat menghasilkan faktor tumbuh yang berpengaruh
positif terhadap tanaman.
FUNGSI
Fungsi PGPR bagi tanaman yaitu mampu memacu pertumbuhan dan fisiologi akar
serta mampu mengurangi penyakit atau kerusakan oleh serangga. Fungsi lainnya
yaitu sebagai tambahan bagi kompos dan mempecepat proses pengomposan
Pengurangan pestisida dan rotasi tanaman dapat memacu pertumbuhan populasi dari
bakteri yang menguntungkan ,termasuk PGPR. Selain itu PGPR dapat pula berfungsi
meningkatkan kesuburan tanah dan sebagai agen pengendali biologi yang berkorelasi
dengan pemacu pertumbuhan tanaman.
PGPR dapat memacu pertumbuhan tanaman dengan dua mekanisme yaitu:
1. Memacu pertumbuhan tanaman sehingga tanaman lebih sehat dan tidak mudah
diserang oleh patogen.
2. Menghasilakan metabolit tertentu seperti antibiotik,siderofor dan HCN yang dapat
membunuh Patogen.
KEUNGGULAN
Keunggulan dari PGPR antara lain :
1. Meningkatkan produktivitas tanaman melalui penambahan bintil akar pada tanaman
kacang-kacangan.
2. Menambah fiksasi N pada tanaman
3. Memacu pertumbuhan Fiksasi Nitrogen bebas
4. Meningkatkan ketersediaan nutrisi lain seperti phospat,belerang,besi, dan tembaga.
5. Memproduksi hormon untuk pertumbuhan tanaman.
6. Menambah bakteri dan jamuryangmenguntungkan
7. Mengontrol hama dan penyakit tanaman.
8. Meningkatkan ketahanan tanaman dari serangan Pathogen yang terbawa oleh benih
9. Dapat meningkatkan daya kecambah tanaman, dan pertumbuhan daun pada tanaman
padi,jagung kacang-kacangan,tomat,cabai,kubis dll.
10. Menjaga keseimbangan ekologi,aman dipakai,tidak menyebabkan pencemaran
lingkungan,beperan aktif dalam siklus hara,mampu memperbaiki status kesuburan
tanah.
PROSES PEMBUATAN PGPR
1. PERSIAPAN BIANG PGPR.
Sebelum membuat PGPR dari akar bambu, terlebih dahulu mempersiapkan biang PGPR
dengan cara :
1. Siapkan akar bambu segar sebanyak 250 gram,dicuci bersih
2. Siapkan air matang yang sudah dimasak dan didinginkan secukupnya
3. Akar bambu yang sudah dicuci bersih di hancurkan atau di memar dengan hamar atau
benda lain, lalu masukkan kedalam wadah,
4. Tambahkan air ± 1 liter kedalam wadah yang sudah diisi akar bambu (atau seluruh akar
bambu terendam air.)
5. tutup rapat dengan plastik bening dan diikat dengan karet
6. Biarkan 3-4 hari sampai nampak ada gelembung air didalam wadah.
7. Saring biang PGPR dan simpan dalam wadah yang bersih. Untuk digunakan dalam
pembuatan PGPR.
2 . PERBANYAKAN PGPR
A. PERSIAPAN BAHAN DAN ALAT.
1. B ahan.
Bahan yang diperluhkan dalam peroses pembuatan PGPR yaitu
1. Biang PGPR
2. dedak halus 1 kg
3. Gula 2 ons atau 200 gram
4. Terasi 5 gram
5. Air bersih 15 liter
6. Kentang 2 kg.
2 . Alat
Alat alat yang perlu disiapkan dalam proses pembuatan PGPR yaitu :
1. baskom.
2. Panci
3. kompor
4. Sendok
5. Jerigen fermentasi
6. Saringan
7. Selang fermentasi
B . CARA PEMBUATAN PGPR
1. Kupas kentang kemudian iris dalam bentuk dadu, jangan terlalu besar atau kecil.
Rebus air 5 liter setelah mendidih masukan irisan kentang. Setelah kentang setengah matang
angkat dan saring.ambil air hasil penyaringan dan dinginkan
2. Rebus dedak dengan air 5 liter hingga mendidih, kemudian saring. Ambil air hasil
penyaringan kemudian dinginkan.
3. Rebus terasi dan gula dengan air 5 liter hingga mendidih, kemudian saring. Ambil air
hasil penyaringan kemudian dinginkan.
4. Setelah semua dingin siapkan jerigen kapasitas 20 liter kemudian campurkan air
kentang, air dedak, air terasi dan gula,dan air biang PGPR.Tutup wadah dan siapkan selang
fermentasi untuk pembuangan gas dari dalam wadah jerigen.
5. Proses pembuatan PGPR berhasil apabila aroma yang ditimbulkan hasil
pencampuran harum setelah beberapa hari, dan dapat di panen atau digunakan setelah 7 hari
6. Apabila PGPR belum digunakan, simpan ditempat yang sejuk/kering, jangan terkena
sinar matahari secara langsung
C. CARA APLIKASI PGPR PADA TANAMAN
1. Kocok/aduk PGPR yang akan digunakan
2. Campurkan ±240 ml (1 gelas air mineral) dalam 5 liter air
3. Tempat yang akan di gunakan harus bebas dari pestisida kimia.
4. Semprotkan pada tanaman/tanah disekitar pertanaman pada pagi atau sore hari.
5. Penyemprotan dapat dilakukan sebelum tanam.Apabila sudah ada tanaman khususnya
tanaman semusim,penyemprotan pertama dilakukan seminggu sekali.
6. PGPR dapat digunakan untuk perlakuan benih sebelum di semaikan.
Pelaksanaan kajian diawali dengan penyebaran Kuisioner pada tanggal 4 Mei 2024
dengan jumlah responden non sasaran sebanyak 30 orang merupakan petani atau
anggota dari tiga kelompok tani di Kelurahan Fatuk Bot Kecamatan Atambua
Selatan yang mempunyai karakteristik yang sama dengan Responden sasaran. Dari
hasil kuisioner yang di uji dengan menggunakan Aplikasi SPSS di dapat 18 soal
Valid dan 2 soal invalid sehingga jumlah kuisioner menjadi 18 soal
Sebagai implementasi penerapan penyuluhan dengan Rancangan Penyuluhan
Pemanfaatan PGPR dari akar bambu sebagai pupuk cair maka telah dilaksanakan
penyuluhan kepada petani anggota Poktan Dalan Ida di Kelurahan Fatukbot pada
tanggal 24 Mei 2024 yang dihadiri oleh 15 orang petani dan 1 orang Kepala BPP
dengan daftar hadir.
Media dalam membantu penyajian materi penyuluhan secara langsung ialah
menggunakan LPM dapat dilihat pada Lampiran 3 dan Leaflet . Media tersebut
digunakan dalam upaya meningkatkan pemahaman dan pengetahuan petani
responden.
Adanya peningkatan pengetahuan petani tentang materi penyuluhan yang
disampaikan merupakan tolok ukur tingkat keberhasilan pelaksanaan penyuluhan
sesuai media, metode dan materi yang telah ditetapkan dan diimplementasikan. Untuk
mengetahui peningkatan pengetahuan petani maka dilakukan pre test sebelum
penyuluhan dilakukan dan post test setelah penyuluhan. Pengetahuan petani sebelum
dan sesudah penyuluhan dapat dikategorikan berdasarkan kriteria pengetahuan yang
telah ditetapkan selanjutnya dapat didistribusikan secara sederhana untuk mengetahui
kejadian perubahan pengetahuan.
Evaluasi Penyuluhan
Berdasarkan hasil tes awal dan tes akhir menunjukkan adanya perubahan
peningkatan pengetahuan setelah dilakukan penyuluhan. Hasil tes awal dan tes akhir
berupa nilai jawaban dari setiap responden untuk setiap nomor pertanyaan. Daftar
hasil tes awal (pre test) dilihat pada Lampiran 8. Kriteria tingkat pengetahuan
responden berdasarkan nilai tes awal seperti Tabel 1.
Tabel 1. Kriteria tingkat pengetahuan responden berdasarkan nilai tes awal.
Kriteria Nilai
Pengetahuan
Kategori
Pengetahuan
Responden Skor Nilai
Jumlah % Jumlah %
< 90 - < 100 Sangat Baik - - - -
< 80 - < 89 Baik - - - -
< 70 - < 79 Cukup - -
< 70 Kurang 15 100 295 100
Jumlah Kurang 15 100 295 100
Dari Tabel 1 menunjukkan bahwa berdasarkan tes awal sebelum penyuluhan
terdapat 15 orang petani memiliki pengetahuan masih termasuk kategori kurang,
dalam kondisi seperti ini maka petani perlu diberikan penyuluhan tentang materi yang
sudah ditentukan.
Setelah melakukan penyuluhan maka dilakukan tes akhir kepada responden
dengan daftar hasil tes akhir yang didistribusikan pada Tabel 2.
Tabel 2. Kriteria tingkat pengetahuan responden berdasarkan nilai tes akhir.
Kriteria Nilai
Pengetahuan
Kategori
Pengetahuan
Responden Skor Nilai
Jumlah % Jumlah %
< 80 - < 90 Sangat Baik 12 86,68 430 88,76
< 50 - < 65 Baik 1 6,66 34 3,46
< 30 - < 50 Sedang 2 13,33 58 8,95
< 20 - < 30 Kurang - - - -
Jumlah - 15 100 522 100
Rata-Rata Baik 5 33,33 172,66 58,71
Tabel 2 diatas menunjukkan bahwa adanya perubahan pengetahuan yang cukup
setelah dilakukan penyuluhan melalui pendekatan kelompok dengan metode ceramah,
diskusi dan demonstrasi hasil. Rata-rata skor peningkatan pengetahuan 58,71 %
termasuk kategori baik. Daftar hasil tes akhir (post test)
Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa ada perubahan pengetahuan petani dari
kategori kurang menjadi kategori baik. Hal ini dipandang sebagai efek penyuluhan yang
diimplementasikan dengan materi, teknik, metode dan media penyuluhan.
Padmowihardjo (2001) menyatakan bahwa ”materi, teknik, metode dan media
penyuluhan pertanian berperan sebagai pembangkit perhatian dan menggugah hati
para petani serta anggota keluarganya untuk menjadi sadar terhadap inovasi dan
selanjutnya timbul minat untuk mengadopsi inovasi tersebut.
3. KESIMPULAN
Dari hasil kajian dan pelaksanaan penyuluhan yang telah dilaksanakan dapat
disimpulkan yaitu
1. Rancangan Penyuluhan
Pemanfaatan PGPR dari akar Bambu disusun dengan tujuan untuk mengetahui
peningkatan pengetahuan Pemanfaatan PGPR dari akar bambu sebagai pupuk cair
Sasaran penyuluhan adalah 15 orang anggota Kelompok tani dalan ida. Metode
penyuluhan yang di gunakan adalah dengan ceramah dan diskusi,.Demonstrasi Cara,
Media yang digunakan adalah leafleat dan benda sesungguhnya . Evaluasi
menggunakan kuisioner tertutup dengan skala Guttman.
2. Hasil Penyuluhan
pemanfaatan PGPR dari akar bambu sebagai pupuk cair.di kelompok tani Dalan Ida,
Petani telah memanfaatkan PGPR dari akar Bambu dengan cara, 220 ml PGPR ( 1
gelas air mineral) di campur dalam 5 liter air bersih,tempat yang akan digunakan harus
bebas dari pestisida kimia, kemudian di kocor pada tanaman melon dengan dosis 220
ml (1 gelas Aqua) per tanaman per minggu . Kocok/aduk PGPR yang akan digunakan
harus bebas dari pestisida kimia,disemprotkanpada tanah/tanaman disekitar
pertanaman pada pagi atau sore hari,Penyemprotan pada dilakukan sebelum tanam
dan apabila sudah ada tanaman dilakukan seminggu sekali, PGPR juga digunakan
untuk perlakuan benih sebelum disemaikan.
3. Setelah dilakukan Penyuluhan
Setelah dilakukan Penyuluhan terjadi peningkatan Pengetahuan Anggota Kelompok
Tani Dalan Ida dari Kategori Kurang dengan Skor 295 (45,52%) menjadi kategori Baik
dengan skor peningkatan Pengetahuan 522 (58,71%

Komentar
Posting Komentar